Rabu, 20 Juni 2018

Chapter 1: Broke Up


“Apa yang kau lakukan?” Tanya Rudi melihat Dayat membuang semua barang - barangnya.

“Ini semua sudah tak berarti, aku harus membuangnya,” balas Dayat datar.

Rudi geram dengan sikapnya yang selalu hancur saat diterpa angin. Dipegang erat tubuhnya dan memaksanya untuk menatap maniknya lekat.

“Tatap aku!” Ucap Rudi tegas penuh emosi. “Jangan buat dirimu semakin tertinggal jauh Yat... sudah aku katakan padamu bukan? Kak Rizal itu playboy. Ia hanya menyukai wajahmu, Ia munafik.” Jelas Rudi.

Dayat memalingkan wajahnya enggan dan Rudi hanya dapat melonggarkan kembali cengkramannya. “Terserah kau saja, aku akan pulang!” Balas Rudi menyerah dan memalingkan tubuhnya.

Dayat memandang setiap barang bekas pemberian orang yang telah meninggalkannya. “Mau bagaimana lagi? Aku sangat mencintai orang yang kau anggap brengsek itu Uni-chan,” balas Dayat dan sukses membuat Rudi menghentikan langkahnya.

“Jangan katakan hal bodoh padaku.” Balas Rudi dan memeluk tubuh sahabatnya itu hangat.

M. Ashrul Hidayat. Biasa dipanggil Dayat oleh teman - temannya. Jika Rudi dan Dayat sedang akur, Ia akan memanggilnya “Yat-Chan”, namun bila mereka sedang ada dalam masalah... Ia hanya akan memanggilnya Dayat.

Mereka menjadi sahabat sejak masuk di gugus yang sama. Mereka bagai yin dan yang jika digambarkan secara kasat mata. Rudi yang berkulit eksotis dan Dayat yang berkulit putih bersih. Teman - temannya menyebut mereka “Duo Oreo” karena hal itu.

Saat Dayat menjadi sangat manja, Rudi harus mengimbanginya sebagai orang yang tegas. Dan saat Rudi menjadi sangat rapuh dan bimbang, maka saat itulah Dayat harus menjadi dinding bersandar untuk Rudi. Mereka sahabat yang sempurna.

“Tidurlah, besok kita ada ulangan Matematika, dan jangan lupa tentang Wish card bagi siapa yang lebih unggul.” Ucap Rudi berusaha menenangkannya. Dan Dayat pun bisa melupakan masalahnya untuk sebentar.

“Tidurlah, jika memang itu yang dapat menenangkan hatimu.”

[SKIP]
“Kamu mau makan apa?” Tanya Rudi yang melihat Dayat mengerjapkan matanya.

“Kau sudah bangun?” Tanya Dayat yang terlihat masih mengantuk.

“Ini sudah jam 5, kau sholatlah dulu. Aku masakkan kau Omurice saja, bagaimana? Atau kau ingin memakan makanan yang lain?” Tawar Rudi sembari membuka gorden kamar kost Dayat yang tadinya tertutup.

“Ah? Terserah kau saja.” Balas Dayat dan berjalan menuju kamar mandi.

Rudi tidak tinggal bersama Dayat, rumahnya cukup dekat dari kostnya, jadi... cukup mudah bila Ia ingin menginap atau menyelinap masuk.

Setelah sejam berlalu, meja makan sudah tertata rapi dan makanan sudah tersajikan diatas bingkan. Dan Dayat pun turun di waktu yang tepat. Ia telah selesai mandi dan telah siap dengan seragamnya.

“Makanlah, aku akan mandi terlebih dahulu.” Ucap Rudi dan Ia pun naik ke atas untuk membersihkan diri.

Rudi mandi sekitar 15 menit, dan turun dengan menggunakan kaos yang Ia pakai tadi. “Kamu tidak makan?” Tanya Rudi karena Dayat tak menyentuh makanan yang Ia buat sama sekali.

Dayat menatap Rudi dan Ia tersenyum lebar. “Aku menunggumu.” balasnya dan dibalas hembusan nafas olehnya. “Yasudah, ayo makan!” Ajaknya.

“Kau cuci piringnya yah, aku akan berganti pakaian dulu.” Ucap Rudi lalu meninggalkan kost Dayat.

“Apakah kak Rizal sudah makan?” Tanyanya lalu Ia pun terdiam.

[SKIP]
“Kak Dayat,” ucap seorang siswi memberikan sebatang coklat.
“Nih,” Ucap preman sekolah sembari memberikan sebatang mawar padanya.

“Humph....” Rudi menghembuskan nafasnya malas. Mereka selalu hampir terlambat karena ini. Dan Rudi masih mengingat bahwa setelah hari valentine berat badannya bertambah 3 kg karena Dayat memaksanya untuk menghabiskan coklat yang Ia dapat. “Yat-chan... ayo cepat!” Ucap Rudi dan menarik paksa Dayat untuk berlari dan keluar dari sekumpulan zombie yang selalu membuatnya naik darah.

“Uni-chan... ada apa?” tanya Dayat bingung.

“Kau memang selalu tak peka! Sudahlah, ayo kita pergi.” Ucap Rudi dan berjalan sedikit di depan Dayat.

Terbesit pikiran nakal Dayat sesaat. Ia mengimbangi jalan Rudi dan... “Apakah kau cemburu?” Tanya Dayat menggoda.

“Tidak!” Balasnya sembari menggigit lidahnya.

“Ululu... kau menggigit lidahmu. Jangan berbohong padaku Uni...” Ucap Dayat semakin menggodanya.

Rudi menggembungkan pipinya kesal. Namun... di tengah lorong, Rudi dan Dayat sama - sama sedikit lengah hingga... “Chu~” Rama mencium Dayat dengan cepat. Rudi yang melihatnya, “Bugh!” dipukul sedikit keras dada bidang Rama agar menjauh dari tubuh Dayat.

Namun... “Aditya, serang Dayat!” Ucap Rama. Rudi yang gegabah membalikkan badan dan melupakan jika Rama masih berada di depannya. Di dekapnya tubuh ramping milik Rudi dari belakang oleh Rama, dan Aditya pun mulai mendekati tubuh Rudi yang terkunci.

“Selamat makan...” ucap Aditya. Dan, “Euhm...” satu lengguhan tertahan keluar begitu saja dari dalam mulut Rudi. Namun... mereka berdua pun melupakan sesuatu yang tak kalah penting.

“Argh!” Aditya berteriak kesakitan karena Dayat mencengkeram kuat tengkuknya. “Apa yang kau lakukan pada Uniku?!” Ucap Dayat geram dengan tatapannya yang begitu tajam.

“Bugh!” Rudi berhasil melepaskan diri dari Rama.

“Bodoh, Rubah kembar melawan Oreo? Kalian akan merasakan sesuatu yang menyakitkan.” komentar salah seorang siswi yang melihat kejadian itu.

“Yat, siap masuk BK?” Tanya Rudi. “Kalo buat Uni aku siap!” Balas Dayat.

Rudi dan Dayat tak selemah penampilan mereka. Walaupun begitu, mereka adalah pemegang sabuk hitam. Dan seperti yang tadi dikatakan, Rama dan Aditya babak belur habis. Bibir mereka tak luput dari bercak darah dan beberapa lebam di beberapa bagian.

Rudi dan Dayat mendapat sedikit dispensasi karena kejadian itu. Mereka diperbolehkan beristirahat saat jam pelajaran pertama. Lalu untuk Rama dan Aditya... mereka diskors.

“Seragammu terlihat kusut karena tadi dikunci oleh kak Rama Uni, apakah kau tak apa?” Tanya Dayat.

“Aku tak mempermasalahkan hal itu... tapi... ini bagaimana?” Tanya Rudi menunjuk bercak merah di leher jenjangnya.

Dayat sedikit berpikir saat melihat bercak yang Rudi tunjukkan. “Ehm, Uni, bagaimana rasanya?” Tanya dayat dan sukses membuat Rudi tersentak.

“Ap... apa maksudmu? Tentu saja sakit bodoh!” Balas Rudi gelagapan.

“Apa boleh jika...” ucap Dayat malu - malu. “Tidak!” Rudi menolak dengan tegas karena Ia paham dengan apa yang diinginkan oleh Dayat saat ini.

“Kenapa?” Tanya Dayat menggoda. “Tidak!” Balas Rudi tegas lagi. Namun, “Aku gunakan 1 dari 3 wish cardku sekarang. Aku minta Uni-chan mau gigit aku dan mau aku gigit.” Ucap Dayat memaksa.

Rudi melotot tengan keinginan Dayat padanya. “Bukankah kau sedang patah hati?” Sindir Rudi menatap kesal pada bayangan Dayat di cermin.

Namun.... “Euhm...” Rudi tak dapat menahan desahannya saat Dayar menggigit lehernya lembut dan memainkan lidahnya.

Karena sudah tak tahan, Rudi memaksa Dayat untuk melepaskannya. “Sudah cukup!” Ucap Rudi gelisah.

“Sekarang aku,” ucap Dayat meminta sembari membuka sedikit kerahnya. “Minta aja sama si Rama!” Ucap Rudi dan pergi meninggalkan toilet.

[Rudi’s Pov]
Yat-Chan baka! Bagaimana bisa Ia menginginkan hal mesum padaku! Baka Yaro!!

“Kau kenapa?” Tanya seseorang dari balik punggungku dan sialnya aku paham siapa itu. “Kenapa kau masih disini?” Balasku datar tanpa membalikkan badanku.

“Apa yang membuatmu begitu benci padaku?” Tanyanya dengan nada yang sedikit terdengar sendu olehku.

Jika diperbolehkan, ingin rasanya menjadikannya sebagai samsak. Ingin rasanya aku memukul tubuhnya yang lebih tinggi dariku agar amarahku bisa terkuras habis. Aku sangat - sangat membencinya. Sangat membencinya.

“Apakah aku harus menjawabnya?” Tanyaku ketus dan berencana meninggalkannya dalam diam. Namun, langkahku terhenti karena Ia berada di hadapanku dengan cepat.

“Apakah... tunggu, siapa yang emberikan kiss mark itu padamu?” Tanya Aditya meredam amarahnya. Aku tersentak saat Ia menyadari bahwa ada bekas gigitan Dayat disana.

Aku yakin jika aku terlihat gugup saat ini, “bukan urusanmu.” Ucapku dan ingin segera melangkah pergi. Namun, “Kenapa jika Dayat yang melakukannya kau dengan senang hati melakukannya? Apakah...” ucapannya terdengar semakin sendu di telingaku. Aku muak!

Aku tak peduli dengan perasaannya kali ini. Hatiku tak dapat menerima rasa sakit olehnya untuk yang kedua kalinya.

[Dayat’s Pov]
“Pantas kak Aditya menyukai Uni, Uni-chan terasa sangat manis.” Pujiku pada Uni yang baru saja keluar.

“Apa yang kau lakukan disini?” kulirik suara itu yang kukenal adalah kak Rama. “Lalu kau sendiri bagaimana? Bukankah kak Rama harusnya diskors?” Balasku ketus.

Maaf saja jika kalian menilaiku lembut dan selalu sopan. Aku memang seekor kelinci. Namun aku pun bisa menjadi seekor macan. Aku masih sangat ingat Ia mengunci dengan sangat keras Uni hingga bajunya terlihat sangat kusut.

“Hei, ayolah. Aku hanya ingin menyapamu sebentar,” ucapnya sembari mendekatiku. Dan aku secara reflek menjauh darinya. “Menjauhlah!” Ucapku tegas namun tak digubris olehnya. Dan, “Bugk!” satu pukulan kulesatkan tepat pada perutnya, membuatnya sedikit meringkuk menahan rasa nyeri yang aku buat.

“Jangan kira aku kuat hanya karena Uni, aku juga adalah perisai uni-chan, jadi maaf saja jika kau berani menyentuhku.” tutupku dan aku pun keluar dari toilet.

Namun, “Jadi kau sudah dapat melupakanku?” Ucap seseorang yang begitu aku benci saat ini.

[Author Pov]
Rudi semakin kesal karena berhadapan dengan Aditya, dan bodohnya kenapa Ia bisa melihat bercak merah pada lehernya. Hingga Ia teringat akan sesuatu yang sangat penting, “Tunggu! Bukankah Aditya selalu bersama dengan Rama, jangan - jangan...” Rudi dengan cepat kembali menuju toilet untuk melihat keadaan Dayat.

Rudi melihat seseorang yang jauh lebih menjijikkan dari pada Duo Rubah. Kak Rizal ada disana. “Apa yang kakak lakukan disini?” Tanya Rudi membuat Rizal membalikkan tatapannya.

“Rudi-Chan?” Sapanya dan Rudi sangat membenci tambahan Chan dibelakang namanya kecuali Dayat yang melakukannya.

“Yat, ayo kita kembali ke kelas. Kita harus masuk sekarang.” Ucap Rudi dan menarik dayat keluar dari dalam toilet. “Maaf Uni, aku masih belum bisa melawan perasaanku pada kak Rizal.” Ucap dayat saat tak ada sepaah kata pun yang terlontarkan sepanjang perjalanan olehnya.

1 komentar:

  1. Seperti komentarku sebelumnya, aku tak akan mengulangi saran dan kritik ku disini. Aku akan mulai memeberikan komentarku pada chapter3 yang akan kutunggu rilis nya nanti. Ganbatte, Uni~Chan..!!

    BalasHapus